Cahaya Ramadhan di Tengah Kehilangan
Malam tarawih di masjid kampung halaman membawa nostalgia masa kecil. Jamaah memiliki tradisi menyebut nama Khulafaur Rasyidin di sela-sela rakaat. Abu Bakar dengan kebijaksanaannya, Umar dengan keberaniannya, Utsman dengan kelembutannya, dan Ali dengan keilmuannya. Walaupun tidak ada hadist yang mewajibkan, tradisi itu menjadi bagian dari identitas jamaah, sebuah cara untuk menjaga semangat ibadah dan menghormati sejarah Islam.
Teringat kisah dakwah Islam di Nusantara, yang penuh dinamika. Ada kelompok yang menolak khulafaur rasyidin, bahkan dalam legenda Jawa muncul simbol-simbol yang menyinggung. Namun saya memilih untuk tidak menajamkan perbedaan. Saya lebih suka menajamkan kebersamaan, karena tujuan semua umat tetap sama: mencari rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Malam itu, di sela-sela tarawih, Saya merasakan ketenangan. Bacaan shalawat bergema, doa-doa dipanjatkan, dan nama para khalifah disebut dengan penuh hormat. Hati ini berbisik: Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang memperbaiki hati, pikiran, dan tubuh. Tentang mengingat bahwa hidup ini singkat, dan kebersamaan adalah cahaya yang menuntun menuju akhirat.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...”
(QS. Ali Imran: 103)
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya...”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Doa hari ini “Ya Allah, jadikanlah Ramadhan ini sebagai bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Satukan hati kami dalam kebaikan, dan kuatkan langkah kami menuju ridha-Mu.”
“Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan ramadhan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut. (HR. Muslim)
Ramadhan merupakan momentum spiritual yang mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan. Perbedaan penentuan awal puasa sering terjadi, namun hal tersebut tidak mengurangi esensi ibadah. Tradisi lokal, seperti menyebut nama Khulafaur Rasyidin dalam tarawih, menjadi bagian dari ekspresi keagamaan masyarakat yang berakar pada sejarah dan kecintaan terhadap generasi awal Islam.
Khulafaur Rasyidin memiliki peran heroik dalam sejarah Islam:
- Abu Bakar As-Shiddiq: sahabat paling setia, menemani Nabi dalam gua Tsur, simbol kejujuran dan kesetiaan.
- Umar bin Khattab: keberanian dan ketegasan, memperluas wilayah Islam dengan keadilan.
- Utsman bin Affan: kelembutan dan kedermawanan, berjasa membukukan mushaf Al-Qur’an.
- Ali bin Abi Thalib: ilmu dan keberanian, rela tidur di ranjang Nabi saat hijrah demi melindungi Rasulullah.
Kisah heroik mereka menjadi inspirasi umat Islam, meski tidak dijadikan ritual wajib dalam ibadah. Tradisi menyebut nama khalifah di sela tarawih dapat dipahami sebagai sarana memperkuat semangat jamaah. Hal ini sejalan dengan tujuan Ramadhan:
- 10 hari pertama: rahmat Allah.
- 10 hari kedua: ampunan Allah.
- 10 hari ketiga: pembebasan dari api neraka.
Selain itu, amalan penting di 10 hari terakhir Ramadhan meliputi shalat malam, sedekah, i’tikaf, dan tilawah Al-Qur’an. Tradisi lokal tidak boleh menggeser substansi ibadah, tetapi dapat menjadi penguat kebersamaan.
Tradisi menyebut Khulafaur Rasyidin dalam tarawih bukanlah kewajiban syariat, melainkan ekspresi budaya keagamaan yang lahir dari kecintaan terhadap sejarah Islam. Praktik ini dapat diterima selama tidak bertentangan dengan prinsip ibadah yang sahih. Ramadhan mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berselisih, melainkan peluang untuk menajamkan kebersamaan dalam meraih rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Sambil istirahat kan tidak ada salahnya agar semangat tetap menyala dan berkobar.Selamat menjalankan ibadah puasa :)

Komentar