Refleksi Kedaerahan dan Makna Kebersamaan: Pengalaman KKN di Pasar Cikuda Cimahi (Oleh: Indra Dermawan)

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga berinteraksi langsung dengan realitas sosial. Salah satu pengalaman yang menarik adalah ketika mahasiswa KKN di Cimahi mengikuti program Wali Kota untuk membersihkan dan memungut sampah di Pasar Cikuda. Kegiatan sederhana ini ternyata menyimpan makna mendalam tentang identitas, kebersamaan, dan martabat manusia.

Sebagai dosen pembimbing, mendampingi mahasiswa dalam kegiatan sosial seperti ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter. Mahasiswa diajak untuk menjaga kondusivitas, bekerja sama, dan menumbuhkan kesadaran bahwa ilmu harus berdaya guna di masyarakat. Membersihkan pasar bukan hanya soal kebersihan fisik, tetapi juga simbol kepedulian terhadap ruang publik yang menjadi pusat perekonomian warga Cimahi.

Dalam momen tersebut, muncul pertanyaan dari Wali Kota kepada dosen pembimbing: “Kamu orang mana?”. Pertanyaan sederhana ini justru memunculkan refleksi kritis. Apakah identitas kedaerahan masih menjadi penentu penerimaan seseorang di tengah masyarakat? Apakah menjadi “orang asli Cimahi” lebih bermakna dibandingkan kontribusi nyata yang diberikan bagi kota ini?

Sebagai dosen yang berasal dari Bandung, pertanyaan itu sempat menimbulkan kegelisahan: jangan-jangan ada kesan eksklusivitas yang membedakan antara warga asli dan pendatang. Namun, refleksi lebih dalam menunjukkan bahwa Cimahi adalah kota yang tumbuh dari beragam latar belakang budaya, etnis, dan sejarah. Kontribusi masyarakat dari berbagai daerah justru memperkaya identitas Cimahi sebagai kota modern.

Dalam perspektif ilmu sosial, pertanyaan tentang asal-usul daerah sering kali membawa implikasi sosial yang kompleks. Identitas lokal memang penting sebagai akar budaya, tetapi jika dimaknai secara sempit, ia dapat menimbulkan sekat identitas yang melemahkan semangat kebersamaan. Teori identitas sosial (Tajfel & Turner, 1979) menjelaskan bahwa manusia cenderung mengelompokkan diri berdasarkan kategori tertentu, termasuk asal daerah. Namun, dalam konteks masyarakat multikultural, kategorisasi ini harus diarahkan pada penguatan solidaritas, bukan eksklusivitas.

Selain itu, dalam perspektif pendidikan, dosen memiliki peran strategis untuk menjaga mahasiswa tetap bermartabat, berilmu, dan berdaya guna. Pertanyaan “Kamu orang mana” dapat dijadikan bahan refleksi di kelas untuk mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya inklusivitas, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman. Dengan demikian, pengalaman KKN tidak hanya menghasilkan keterampilan praktis, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebangsaan.

Refleksi dari pertanyaan Wali Kota Cimahi menunjukkan bahwa identitas kedaerahan adalah bagian dari kekayaan budaya, tetapi bukan alat pembeda. Cimahi sebagai kota modern dibangun oleh kontribusi semua orang, baik yang lahir di sana maupun yang datang dari luar. Sebagai dosen, tugas utama adalah memastikan mahasiswa tumbuh menjadi manusia yang bermartabat, berilmu, dan berdaya guna, serta mampu melihat keberagaman sebagai kekuatan.

Pertanyaan “Kamu orang mana” akhirnya menjadi pintu masuk untuk perenungan lebih dalam: bahwa setiap orang, dari mana pun asalnya, memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk membangun masyarakat yang lebih baik.(ID)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGUMUMAN PELAKSANAAN PERKULIAHAN SEMESTER PENDEK TAHUN AJARAN 2025/2026

PENERIMAAN MAHASISWA BARU STIA CIMAHI 2026/2027 TELAH DIBUKA!

Komunikasi “Who says What in Which Channel to Whom with What Effect?”

RPS Administrasi Niaga Kurikulum Berbasis OBE STIA Cimahi

Definisi dan Sejarah Perbankan

Esensi Ujian Akhir Semester (UAS) adalah alat evaluasi menyeluruh atas proses belajar,

Ketua Program Studi Administrasi Niaga STIA Cimahi Hadiri Kajian Bertema “Bukan Mewah yang Dicari, tetapi Ayah yang Selalu Kembali”

Selamat Hari Keanekaragaman Hayati 22 Mei 2026

STIA CIMAHI MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA TARWIYAH 8 DJULHIJAH 1447 H / 25 MEI 2025